Di saat orang-orang merintih kesakitan, mereka justru tertawa bahagia
Ketika orang-orang merasa letih tak berdaya, mereka justru bergairah dan penuh semangat
Di waktu orang-orang menunggu dengan penuh
kegalauan, mereka justru sedang bersenang-senang, riang gembira mencecap
kenikmatan yang datang tak henti-hentinya
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
عُرِضَتْ عَلَيَّ
الْأُمَمُ فَجَعَلَ يَمُرُّ النَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالنَّبِيُّ
مَعَهُ الرَّجُلَانِ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّهْطُ وَالنَّبِيُّ لَيْسَ
مَعَهُ أَحَدٌ وَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الْأُفُقَ فَرَجَوْتُ
أَنْ تَكُونَ أُمَّتِي فَقِيلَ هَذَا مُوسَى وَقَوْمُهُ
ثُمَّ قِيلَ لِي انْظُرْ فَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الْأُفُقَ
فَقِيلَ لِي انْظُرْ هَكَذَا وَهَكَذَا فَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ
الْأُفُقَ فَقِيلَ هَؤُلَاءِ أُمَّتُكَ وَمَعَ هَؤُلَاءِ سَبْعُونَ
أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Telah diperlihatkan
kepadaku beberapa umat (oleh Allah), ada seorang Nabi bersama satu
orang, seorang Nabi bersama dua orang, seorang Nabi bersama beberapa
orang dan ada pula seorang Nabi sendirian, tidak ada seorang pun yang
menyertainya. Dan aku lihat sekelompok orang yang amat banyak menutupi
ufuk. Maka aku pun berharap seandainya mereka itu umatku, tapi
dikabarkan kepadaku, “Itu adalah Musa dan kaumnya. “ lalu dikabarkan
lagi, “Lihatlah ke ufuk yang lain” Tiba-tiba aku lihat lagi sejumlah
besar orang menutupi ufuk. Lalu dikabarkan lagi kepadaku, “Lihatlah itu
dan itu. “ Maka kembali aku melihat sejumlah besar orang menutupi ufuk .
lalu dikabarkanlah kepadaku, “Itulah umatmu dan bersama mereka ada
tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab (dan azab).”
Ibnu Abbas berkata:
فَتَفَرَّقَ النَّاسُ
وَلَمْ يُبَيَّنْ لَهُمْ فَتَذَاكَرَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا أَمَّا نَحْنُ فَوُلِدْنَا فِي الشِّرْكِ
وَلَكِنَّا آمَنَّا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَلَكِنْ هَؤُلَاءِ هُمْ
أَبْنَاؤُنَا فَبَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَ
“Orang-orang pun jadi berselisih pendapat (mengenai
70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan azab tersebut)sedangkan
beliau tidak menjelaskan kepada mereka (siapa mereka itu). Para shahabat
Nabi pun jadi berdiskusi. Mereka berkata, ‘Adapun kita lahir dalam
kehidupan syirik akan tetapi kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
sedangkan mereka itu keturunan kita. ” Maka sampailah kepada Nabi
pembicaraan mereka tersebut, lalu beliau pun bersabda:
هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“ Mereka itu orang yang tidak pernah melakukan tathayyur, dan tidak pernah meminta diruqyah dan tidak meminta diobati dengan kay serta bertawakkal hanya kepada Rabb mereka. ” (HR. Bukhari: 5311 dan Muslim: 216)
Inilah orang-orang yang beruntung. Inilah orang-orang yang berbahagia.
Merekalah orang-orang yang bergembira di akhirat kelak.
Mereka tak akan merasakan hisab dan tidak pula
azab. Mereka masuk surga tanpa proses penghitungan amal dan tanpa perlu
pula ‘mampir’ ke neraka!
Allahu akbar!
Siapa mereka? Apakah engkau termasuk mereka? Dan apa ciri-ciri mereka?
Sifat Orang-Orang Yang Masuk Surga Tanpa Hisab Dan Azab
Dalam hadits di atas Nabi صلى الله عليه وسلم telah menyebutkan 4 sifat orang-orang beruntung itu, yaitu:
1. Tidak melakukan tathayyur
Tathayyur adalah sikap pesimis terhadap sesuatu
yang didengar atau dilihat atau diketahui. (Lihat pengertian tathayyur
beserta contoh-contohnya di sini)
Tathayyur adalah syirik. Karena itu, tidaklah
seseorang meninggalkan tathayyur, melainkan itu tanda bahwa tauhid
begitu kokoh menancap dalam jiwanya.
2. Tidak meminta diruqyah
Meruqyah dan meminta diruqyah selama memenuhi syarat-syaratnya (lihat di sini)
adalah sesuatu yang dibolehkan dan tidak terlarang. Namun, disadari
maupun tidak, ketika seseorang meminta bantuan orang lain untuk
meruqyahnya, sedikit-banyak ada ketergantungan dan perasaan rendah diri
di hadapan orang yang dimintai bantuan tersebut.
Karena itu, tidaklah seseorang meninggalkannya
(tidak meminta diruqyah), melainkan itu tanda bahwa tauhid begitu dalam
bersemai di hatinya. Ia hanya menyadarkan dirinya kepada Allah عز وجل . Ia enggan bergantung kepada orang lain. Dan ia tak mau pula merendahkan diri kepada selain-Nya.
3. Tidak meminta diobati dengan kay
Kay yaitu pengobatan dengan besi panas.
Caranya yaitu membakar besi hingga memanas lalu menempelkannya pada
anggota badan yang sakit.
Melakukan pengobatan dengan kay dan meminta untuk diobati dengan kay
adalah sesuatu yang diperbolehkan dan tidak terlarang. Namun, serupa
dengan orang yang meminta diruqyah, disadari maupun tidak, ketika
seseorang meminta bantuan orang lain untuk mengobatinya dengan kay, sedikit-banyak ada ketergantungan dan perasaan rendah diri di hadapan orang yang dimintai bantuan tersebut.
Karena itu, tidaklah seseorang meninggalkannya (tidak meminta diobati dengan kay), melainkan itu tanda bahwa tauhid telah merasuk begitu jauh ke lubuk hatinya. Ia menyadarkan dirinya kepada Allah عز وجل semata. Tak sudi dirinya bergantung kepada orang lain. Dan tak rela pula jiwanya merendahkan diri kepada selain-Nya.
Namun, sekali lagi, meminta diobati dengan kay dan juga meminta diruqyah
bukanlah perkara yang diharamkan dalam islam. Hanya saja, keutamaan
masuk surga tanpa hisab dan azab akan luput dari orang yang
melakukannya.
4. Bertawakkal hanya kepada Allah عز وجل
Ya, bertawakkal hanya kepada Allah. Bukan kepada jabatan, uang, kedudukan dan semisalnya.
Siapa yang sungguh-sungguh berusaha dalam segala urusan lalu ia menyerahkan hasilnya kepada Allah عز وجل . Itulah orang yang bertawakkal kepada Allah عز وجل . itulah orang yang menauhidkan Allah.
Saudaraku, itulah empat sifat seorang muwahid
sejati. Itulah sifat golongan yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa
azab. Apakah engkau memiliki sifat seperti mereka? Maukah engkau
bergabung bersama mereka?
narasumber: http://filsafat.kompasiana.com/2012/07/29/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar